Banyak sekali bangunan-bnagunan peninggalan bersejarah dari jaman kolonial Belanda. Salah satunya adalah jembatan tua yang berada di Kota Depok ini. Menjadi salah satu aset peninggalan bersejarah yang digunakan sebagai sarana penyebrangan yang masih aktif hingga kini. Yuk simak apa saja sejarah yang melatar belakangi pembangunan jembatan panus yang sudah ada sejak jaman kolonial Belanda.

Sejarah dan Fakta Jembatan Tua di Depok

  1. Pemberian Nama Jembatan

Jembatan yang terletak di Jl. Tole Iskandar Depok ini dibangun oleh seorang Belanda yang bernama Stephanus Jonathan, dan penamaan jembatan tersebut diambil dari nama depan sang penjajah. Sebutan dan ejaan nama Stephanus yang digunakan sebagai nama jembatan tersebut Dan ejaan yang tersebar dikalangan pribumi Jawa Barat pada masa itu menjadi Panus.

  1. Konstruksi Jembatan Menggunakan Putih Telur

Dahulu, jembatan ini dipakai sebagai jalur utama transportasi darat untuk menyebrangi sungai Ciliwung. Terdapat sejarah yang mengungkapakan fakta bahwa selain menggunakan batu, semen dan pasir, konstruksi jembatan tersebut juga dibangun dengan putih telur sebagai perekatan bangunan jembatan. Putih telur digunakan karena dianggap memiliki daya rekat yang kuat.

  1. Tempat Pembuangan Mayat

Selain berfungsi sebagai jembatan penyebrangan, jembatan tersebut juga digunakan sebagai tempat pembuangan mayat pada jaman pemerintahan kolonial Belanda. Bahkan Jembatan tersebut juga pernah menjadi tempat bunuh diri pleh istri Stephanus Jonatahan yang konon sampai sekarang sering menampakkan arwahnya disekitar jembatan

Nah, itu tadi sekilas fakta dan sejarah yang beredar dikalangan masyarakat setempat khususnya warga Depok dan sekitarnya tentang bangunan jembatan tersebut. Semoga sejarah singkat di atas dapat menambah pengetahuan Anda mengenai sejarah pembangunan jembatan-jembatan di Indonesia.